Visibility dan Ketersediaan Air Tantangan Satgas Udara Sumsel

PALEMBANG – Jarak pandang atau visibility yang pendek dan ketersediaan sumber air membuat operasi udara water bombing belum optimal. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Willem Rampangiley sebagai kesimpulan operasi Satuan Tugas Udara pada Kamis sore (15/10) di Pos Komando Satuan Tugas Siaga Darurat Bencana Asap. Menyikapi kondisi ini Willem mengajak semua unit baik dari BNPB, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dan bantuan internasional untuk menyusun strategi pemadaman api dan asap.

Menurut Willem, visibility pada masing-masing jenis pesawat atau helikopter berbeda. “Ada jarak pandang horizontal dan vertikal”, kata Willem. Visibility untuk heli Singapura sekitar 1.000 meter. Semakin besar pesawat semakin butuh visibility yang lebih jauh.

Sementara itu, ketersediaan air yang terbatas menjadi tantangan pemadaman. Ketersediaan air yang dekat dengan api maupun asap menjadi salah satu faktor yang menentukan efektivitas pemadaman. Fenomena El Nino memperburuk cuaca yang bersifat kering. Tiga hari terakhir ini tidak ada potensi awan hujan sehingga memungkinkan potensi kebakaran hutan dan lahan yang tinggi.

Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin mengatakan bahwa memang luar biasa tantangan pemadaman tahun ini. “Saya yakin muncul titik api baru di daerah masih hijau ini artinya api masih menjalar di bawah permukaan”, papar Gubernur.  Alex Noerdin menegaskan bahwa tim ini tidak menyerah dan tidak pasrah. “Bagaimana kita bersama-sama dengan pihak luar negeri maupun kita sendiri untuk memadamkan api. Yang penting sekarang ini mengkonsolidasi semua yang ada untuk menyelesaikan dengan segera”, kata Gubernur.


Willem menjelaskan bahwa operasi pemadaman air hari ini (15/10) sangat efektif. Pesawat Pelican milik Malaysia melakukan 23 kali pengemboman. 156.000 liter dijatuhkan untuk pemadaman asap di Cengal. Di pihak lain, pesawat Australia melakukan 6 kali water bombing dengan total 90.000 liter di wilayah Air Sugihan. Total air yang dijatuhkan oleh kekuatan BNPB dan pihak internasional melebihi 1,2 juta liter.

Related posts