Pimpin Upacara BNPB, Syamsul: Gerakan Revolusi Mental Untuk Kemajuan Bangsa

JAKARTA - Kepala BNPB Syamsul Maarif pagi ini, Senin (7/9) memimpin langsung upacara di halaman kantor BNPB pada pukul 07.00 WIB. Hadir dalam upacara tersebut, semua pejabat dari eselon I hingga eselon IV dan staf. Dalam sambutannya, Syamsul menyebut Revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional. Usaha kita bersama untuk mengubah nasib Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, adil, dan makmur. Kita harus berani mengendalikan masa depan bangsa kita sendiri, bangsa tersebut harus berani berubah ke arah yang lebih baik. 

Kemajuan bangsa  tidak mungkin maju kalau sekadar mengandalkan perombakan institusional tanpa melakukan perombakan manusianya atau sifat mereka yang menjalankan sistem ini. Sehebat apa pun kelembagaan yang kita ciptakan, selama ia ditangani oleh manusia dengan salah kaprah tidak akan membawa kesejahteraan. Dalam pembangunan bangsa, saat ini kita cenderung menerapkan prinsip-prinsip paham liberalisme yang jelas tidak sesuai dan kontradiktif dengan nilai, budaya, dan karakter bangsa Indonesia. Sudah saatnya Indonesia melakukan tindakan korektif, tidak dengan menghentikan proses reformasi yang sudah berjalan, tetapi dengan mencanangkan revolusi mental menciptakan paradigma, budaya politik, dan pendekatan nation building baru yang lebih manusiawi, sesuai dengan budaya Nusantara, bersahaja, dan berkesinambungan ujar Syamsul.

Revolusi mental beda dengan revolusi fisik karena ia tidak memerlukan pertumpahan darah. Namun, usaha ini tetap memerlukan dukungan moril dan spiritual serta komitmen dalam diri seorang pemimpin dan masyarakat. Harapan-harapan yang terkandung dalam “Revolusi Mental” bukanlah sekedar anjuran-anjuran memiliki perilaku santun belaka. Lebih daripada itu adalah membuang mental malas bekerja, membuang mental diskriminatif, membuang mental koruptif, membuang mental menyuap. Revolusi Mental adalah revolusi berkesinambungan setelah revolusi fisik diakhiri. Revolusi Mental adalah revolusi yang harus diselesaikan oleh segenap bangsa dan negara untuk menuju Indonesia sejahtera dan berwibawa di mata bangsa-bangsa.

Untuk mendukung revolusi mental di lingkungan aparatur, perlunya menciptakan budaya kerja dengan nilai-nilai integritas. Nilai tersebut memberikan batas-batas dan pagar yang jelas tentang perilaku yang harus dipraktikkan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan untuk menjaga aparatur tetap berada dalam koridor perilaku tersebut, maka harus pula melakukan perbaikan seluruh sistem.

Agenda “Revolusi Mental”, kebudayaan mesti dipahami bukan sekadar sebagai seni pertunjukan, pameran, kesenian, tarian, lukisan, atau celoteh tentang moral dan kesadaran, melainkan sebagai corak/pola cara-berpikir, cara-merasa, dan cara-bertindak yang terungkap dalam tindakan, praktik dan kebiasaan kita sehari-hari. Hanya dengan itu “Revolusi Mental” akan menjadi wahana melahirkan Indonesia menjadi maju. (adi)

Related posts