Ketangguhan ASEAN dalam Pemulihan Pascabencana

Semarang - Pelaksanaan proses pemulihan pascabencana membutuhkan komitmen dari seluruh anggota negara ASEAN untuk membangun ketangguhan di kawasan regional secara bersama. Komitmen tersebut sangat penting mengingat dampak dari proses tersebut adalah korban bencana. Hal tersebut disampaikan oleh Deputi BIdang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Harmensyah sebagai Co-Chairman dalam Working Group Recovery pada tanggal 25 April 2015 di Crown Plaza Hotel - Semarang 

Acara ini merupakan lanjutan dari pertemuan Asean Committee on Disaster Management (acdm) ke-4 Working Group on recovery di Yogyakarta pada tanggal 24 Agustus 2015 yang lalu. Acara diisi dengan diskusi berbagi pengalaman dan keahlian dalam menghadapi bencana khususnya bidang rehabilitasi dan rekonstruksi. Masing-masing delegasi memaparkan berbagai pengalaman dan keahlian dalam pemulihan pasca bencana yang dihadiri oleh negara-negara ASEAN diantaranya Myanmar, Laos, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam dan Indonesia sebagai tuan rumah. Acara juga dihadiri oleh perwakilan ASEAN Secretariat dan AHA Centre serta asistensi dari perwakilan UNESCAP dan UNOCHA.  

Sharing pengalaman Indonesia disampaikan oleh Neulis Zuliasri - Direktur Penilaian Kerusakan BNPB yang memaparkan pengalaman dan keahlian dalam pemulihan pasca bencana seperti Post Disaster Needs Assessment (PDNA) atau Kajian kebutuhan pascabencana (Jitupasna). PDNA merupakan kerangka kerja dari rehabilitasi dan rekonstruksi. PDNA digunakan sebagai substansi dalam mempersiapkan rencana aksi pemulihan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Panduan umum dalam implementasi dari rehabilitasi dan rekonstruksi mengacu pada Perka BNPB No.17 Tahun 2010. Modul panduan tersebut sudah tersedia dan sebagai modul materi ajar pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan BNPB. Pengalaman tersebut merupakan studi kasus yang terkait pada Sendai Framework dan hasil finalnya akan dipresentasikan pada pertemuan World Humanitarian Summit 23-24 Mei 2016 di Turki.

Selain pengalaman, diskusi juga membahas pentingnya pembangunan kapasitas dalam pemulihan pasca bencana dengan mengadakan pelatihan. Pelatihan berupa berbagi pengetahuan dan studi kasus dengan mengambil pelajaran di lokasi bencana secara langsung. Beberapa poin yang dihasilkan pada pertemuan ini yaitu pembangunan ASEAN sebagai referensi panduan dalam pemulihan pasca bencana, mendukung kelompok kerja pada pemulihan, mendukung cara kerja referensi panduan dan merekomendasikan referensi tersebut dapat diadopsi pada ACDM serta kelompok kerja mengajukan dokumen final sebelum dipublikasikan. Poin-poin tersebut akan dibahas pada acara ACDM 26-29 April 2016 dan Working Group dalam pemulihan akan melakukan diskusi lanjutan untuk memfinalisasi dokumen panduan tersebut pada pertemuan ke-6 yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2016 di Myanmar.

Related posts