Banjir dan Longsor Berpotensi Meningkat

Potensi banjir dan longsor makin meningkat memasuki puncak penghujan. Antisipasi harus disiapkan agar penanganan bencana menjadi lebih baik. Saat ini, bencana masih dilihat sebagai ad-hoc. Artinya hanya fokus saat tanggap darurat, setelah itu lupa. Padahal pengurangan risiko bencana adalah investasi dalam pembangunan. Negara hadir dan melindungi rakyatnya bukan hanya saat terjadi bencana. Tetapi saat pra bencana dan pasca bencana juga harus hadir di tengah-tengah rakyat.   Indonesia rawan banjir dan longsor. Saat ada 61 juta jiwa penduduk yang tinggal di 315 kab/kota yang berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari banjir. Ada 124 juta jiwa penduduk yang tinggal di 274 kab/kota yang bahaya sedang-tinggi dari longsor.   Dampak bencana banjir dan longsor cukup besar besar. Selama kurun waktu 1815-2014 terdapat 8.501 kejadian banjir dan longsor. Dampaknya 31.432 orang tewas, 20,7 juta mengungsi dan menderita, dan ratusan ribu rumah rusak. Untuk tahun 2014, data sementara ada 697 kejadian banjir dan longsor yang menyebabkan  339 orang tewas, 1,7 juta jiwa mengungsi dan menderita, dan ribuan rumah rusak. Dampak kerugian dan kerusakan banjir dan longsor tahun 2014 tercatat, banjir Jakarta Jakarta Rp 5 triliun, banjir dan longsor di 16 kab/kota di Jawa Tengah Rp 2,01 triliun, dan banjir bandang di Sulut Rp 1,4 triliun. Sedangkan banjir di Pantura Jawa (dari Banten-Jabar-Jateng dan Jatim) berdampak Rp 6 triliun. Yang menyebabkan inflasi pada Januari 2014 menjadi 1,07% (sebelumnya 1,03%).   BMKG memprediksikan bahwa curah hujan normal. Tetapi banjir dan longsor tetap ada. Besar-kecilnya banjir dan longsor dipengaruhi oleh hujan yang ada. Diperkirakan banjir dan longsor akan banyak terjadi di Sumsel, Jambi, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalsel dan Kalteng selama Desember 2014 hingga Februari 2015 dengan puncaknya pada Januari 2015.   Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Related posts